Postingan

Antologi Ilmu Dokumentasi Baru

Gambar
Dokumentasi sering dikatakan sudah kuno. Benarkah demikian? Dunia internasional pada 2003 menengarai munculnya gerakan dokumentalis baru (neo-documentalist movement) yang membangun Documentation Academy serta pertemuan tahunan yang dikenal dengan nama DOCAM. Dari rangkaian pertemuan tahunan itulah lahir Ilmu Dokumentasi Baru.

Kappa Sigma Kappa Indonesia (KSKI) adalah kelompok studi yang fokus pada pembelajaran dan pengembangan Konsep dan Ilmu Dokumentasi Baru (IDB). Sejak September 2018, beberapa anggota melakukan studi dan diskusi bersama, maupun mandiri dengan pilihan tema pribadi. Hasil studi dan diskusi tersebut dihimpun menjadi sebuah terbitan berjudul: Antologi Ilmu Dokumentasi Baru. 

Antologi ini berisi bahasan antara lain tentang: Neo-Documentation Movement, Document Academy, Document Theory, Suzanne Briet & Antelope, School of Documentation Studies, Documentation in a Complementary Perspective, Document Archeology, Document Discourse Analysis, Document Phenomenology,…

Diskusi Buku "Menuju Era Baru Dokumentasi"

Gambar
Buku Menuju Era Baru Dokumentasi merupakan hasil perenungan penulis tentang makna dokumentasi selama 45 tahun bekerja di PDIN (Pusat Dokumentasi dan Informasi Nasional) yang saat ini berganti nama menjadi PDDI LIPI (Pusat Dokumentasi dan Data Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Gagasan tentang dokumentasi ditemukan pada huruf d pasal 4 UU Nomor 6 Tahun 1956 tentang Pembentukan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI), yaitu menyelenggarakan pendaftaran kepustakaan dan benda-benda lain yang berharga untuk ilmu pengetahuan, yang terdapat di Indonesia. Perhatian penulis saat itu tertuju pada benda-benda lain, tidak hanya bahan pustaka saja yang selama ini kita kenal. Sehingga ia berpikir bahwa dokumentasi seharusnya tidak hanya terbatas pada bahan pustaka saja.

Hocus Pocus dan Wisdom: Buah tangan UPIBOOKPEDIA 4.0

Gambar
Hendaklah tukang-tukang cerita waspada terhadap hal-hal bohong dan hikayat-hikayat yang menyajikan perbuatan salah, atau yang tujuan baiknya tidak dapat dipahamkan oleh umum, atau, cerita itu merupakan suatu pertarungan yang baik dengan buruk, lalu yang buruk mendapatkan pembelaan yang berlebihan sebelum dikalahkan oleh yang baik, hal ini memberanikan orang berbuat dosa (salah) – Imam Ghazali, Ihya Ulumudin

Sekitar Teori dan Praktik Kepustakawanan Kita

Gambar
Antara teori dan praktik tidak jarang dipertentangkan. Siaran televisi jaman dahulu, sering memunculkan iklan yang seakan tidak mempercayai teori dengan adanya ungkapan seorang pekerja pada rekannya: “Ah teori saja!” Memang antara teori dan praktik dapat berbeda jauh. Mungkin kita juga pernah melakukan praktik yang berdasar hanya pada insting kita saja. Padahal selalu ada keterkaitan antara teori dan praktik. Saya pernah lama (hampir 40 tahun) menjadi pustakawan praktisi yang termasuk senang memikirkan atau melamunkan tentang teori atau ilmu yang melatarbelakangi penyelenggaraan perpustakaan. Saya selalu mencari sejawat yang kiranya sepaham. Ada beberapa teman yang mempertanyakan apakah dalam praktik, kita harus selalu berangkat dari teori atau ilmu? Saya sering menjawab dengan mengatakan: “Mencopet saja ada ilmunya!” Mungkin jawaban ini bisa tidak mengenakkan bagi penanya. Cara menjawab saya mungkin aneh bahkan salah.

Strategi Membangun Budaya Literasi di Era Digital

Gambar
*Artikel disampaikan pada Seminar Nasional Literasi 2017 Peran Pustakawan Dalam Pendidikan Literasi Informasi Digital, Semarang, 15 Oktober 2017
Saya diminta Panitia Seminar untuk berbicara dengan judul di atas. Ada tiga kata kunci dalam judul tersebut yaitu: 1) strategi, 2) budaya literasi, dan 3) era digital. Jujur harus saya mengaku bahwa bahwa pengetahuan saya terkait tiga kata kunci tersebut sangat terbatas. Namun saya tetap mengingat apa yang sering diminta oleh Ibu Luwarsih sewaktu beliau menjadi atasan saya. Bahwa sebagai pustakawan pantang untuk mengatakan tidak tahu. Jika pustakawan menerima pertanyaan terkait informasi atau pengetahuan, meski belum tahu harus menjawab: “Akan saya carikan.” Itulah instruksi beliau kepada kami stafnya. Instruksi itu tetap tertanam dalam diri saya. Oleh sebab itu saya mencoba layaknya pustakawan referensi melayani pertanyaan terkait judul di atas. Jadi apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini adalah tafsir saya sebagai  pustakawan mengenai m…

Pustakawan Guru

Gambar
*Artikel disampaikan pada Seminar Nasional Peran Pustakawan Guru Dalam Mendukung Gerakan Literasi Sekolah di Abad 2, Bandung, 2 Maret 2017
Memenuhi permintaan panitia seminar, diharapkan paparan ini dapat menjelaskan: definisi pustakawan Guru; tips ringkas pemberdayaan perpustakaan; pendidikan pemustaka; dan kolaborasi Guru dan pustakawan dalam menopang Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Namun sebelum masuk pada materi bahasan sesuai permintaan, perlu saya sampaikan “catatan kecil” menyangkut tiga istilah yang dipakai dalam seminar ini. Ketiga istilah itu adalah “Literasi”; “Pustakawan Guru”; dan “Pemustaka”.

Mengantar ke Gerbang Kemerdekaan Berpikir tentang Ilmu Dokumentasi

Gambar
*Artikel ini disampaikan pada Seminar Nasional Peran Pustakawan di Era Perang Informasi dan Diskusi Buku Menuju Era Baru Dokumentasi, Semarang 9 Maret 2017

Untuk memahami isi buku: Menuju Era Baru Dokumentasi (MEBD), LIPI Press, 2016, perlu dibuat uraian yang diharapkan akan membantu mempermudah proses membaca dan memahami buku itu. Pertama yang harus disebut adalah, bahwa buku itu belum mengajarkan ilmu dokumentasi. Buku itu bukan buku ilmiah, namun juga bukan buku populer umum. Lebih tepat disebut sebagai karya semi ilmiah, karena belum mengajarkan ilmu dokumentasi meski lahir dari pembelajaran atas banyak referensi ilmiah dan pengalaman kerja. Buku tersebut dapat dikata baru bertujuan untuk mengantar pembaca ke gerbang kemerdekaan berpikir tentang ilmu dokumentasi. Upaya panjang pencarian makna dan ajakan berpikir lebih lanjut tentang ilmu dokumentasi adalah “roh” dari buku tersebut.