Apa itu Sains Informasi?


Sains informasi merupakan disiplin ilmu yang relatif baru apabila dibandingkan dengan ilmu perpustakaan. Namun demikian, perkembangannya tidak bisa tidak terkait dengan ilmu perpustakaan.[1]


Istilah informasi sendiri memiliki arti yang beragam. Buckland[2] melihat informasi dalam tiga aspek, yaitu:

1.      Information as thing adalah bidang yang mempelajari informasi dari sisi dokumen yang sudah jadi ((buku, jurnal, majalah, dsb). Biasanya dipelajari oleh ilmu perpustakaan.
2.      Information as process adalah bidang yang mempelajari proses informasi dari tidak tahu menjadi tahu dalam diri manusia dengan berbagai perilakunya.
3.      Information as knowledge adalah informasi yang telah tertanam dalam diri seseorang setelah mengalami proses informasi.

Dalam sains informasi, ketiga pengertian tersebut dipelajari secara interdisipliner. Singkatnya,  sains informasi mempelajari proses informasi dari data sampai jadi dokumen hingga kemudian ada dalam diri atau dimiliki orang secara kognitif.

Sains Informasi dan Ilmu Perpustakaan

Sains informasi berkembang di Eropa mulai tahun 1960-an dan berakar dari dokumentasi. Di Amerika, sains informasi mulai di tahun 1947-an. Baik di Amerika maupun di Inggris, terjadi kecenderungan mengganti LS maupun LIS menjadi IS.

Perkembangan dan pertumbuhan keilmuan informasi tersebut perlu dipahami oleh pustakawan dan pengajar ilmu perpustakaan. Dengan menggunakan pendekatan sains informasi, pustakawan akan memiliki pengetahuan atau keilmuan yang lebih komprehensif, misalnya mempelajari bagaimana ilmu tumbuh sehingga klasifikasi bisa berubah atau bergeser. Perkembangan ilmu-ilmu serta scholarly communication dipelajari di sains informasi, misalnya bagaimana satu ilmu tumbuh dan kemudian berkembang dan bercabang atau bahkan kemudian menghasilkan ilmu baru seperti sains informasi yang saat ini sudah memiliki minat di health informatics dan social informatics. Selain itu, melalui sains informasi, pustakawan juga akan lebih bisa memahami bagaimana learning behavior maupun learning style pemustaka.

Studi LIS pada dasarnya adalah ilmu perpustakaan dan ditambahkan beberapa subyek dari sains informasi tetapi hanya untuk kepentingan ilmu perpustakaan. LIS mulai ada di sekitar tahun 1970-an saat ilmu perpustakaan melihat sains informasi bisa “membantu” ilmu perpustakaan. Saat itu, ilmu perpustakan bergeser dari collections-centric ke user-centric. Baru kemudian information behavior masuk sebagai pendukung layanan perpustakaan. Di Indonesia, user-centric terjadi di sekitar tahun 1995.

Selain dapat digunakan untuk mengelola informasi di perpustakaan, seperti pada Newark Public Library, sains informasi juga memberikan kesempatan bekerja di banyak bidang, mulai dari data center sampai ke digital fingerprint dan digital mapping.

Tidak hanya pustakawan dan profesional informasi, perkembangan tersebut juga perlu direspon oleh pengajar di bidang LIS. LIS bisa menambahkan kurikulum dengan mata kuliah dari Sains Informasi tetapi tentu tidak akan bisa maksimal karena sains informasi lebih luas kajiannya dibandingkan LIS maupun LS sedangkan jumlah SKS tidak akan bisa ditambah dalam jumlah besar. Ilmu perpustakaan memang tidak hilang begitu saja, tetapi di banyak perguruan tinggi sudah mulai beralih ke sains informasi.

Ilmu perpustakaan mempelajari pengetahuan tetapi dalam bentuk dokumennya dan tidak mempelajari kontennya. Sementara di sains informasi konten juga dipelajari melalui content analysis dalam mata kuliah information measurement. Ilmu perpustakaan adalah ilmu yang berbasis institusi, sedangkan sains informasi lebih mendasarkan pada fenomena informasi yang mungkin sedang dalam proses pembuatannya. Proses informasi yang sedang berlangsung pun juga menjadi bagian kajian dari sains informasi. Belkin[3] menyebutkan bahwa sains informasi tidak sekedar mempelajari "information as document" tapi juga "cognitive aide"-nya.

Sains informasi dapat digunakan untuk kepentingan dan cakupan bidang perpustakaan, tetapi sains informasi tidak membatasi kajiannya di perpustakaan. Saat ini sebagian masyarakat perpustakaan sudah siap dengan sains informasi walaupun sebagian masih berada dalam status quo. Persoalannya adalah di Indonesia, ilmu tidak berkembang secara terbuka dan intervensi pemerintah atas keilmuan terlalu besar. Sebagai contoh ilmu perpustakaan sekarang ada di bawah sains informasi, tetapi di Indonesia tidak demikian. Di negara ini, ilmu perpustakaan tidak berada di bawah sains informasi melainkan ada di bawah ilmu komunikasi, ilmu sosial, ilmu komputer, bahkan Islamic studies.

Penutup

Kenyataannya, saat ini pendidikan perpustakaan masih belum banyak berkembang. Kegagahan dan kehebatan pustakawan lebih terlihat karena pengalaman dan inovasi selama menjadi pustakawan. Terlihat dari betapa kreatifnya pustakawan dan perpustakaan dibandingkan dengan prodi ilmu perpustakaan. Oleh karena itu, prodi ilmu perpustakaan harus selalu mau melihat perkembangan keilmuan bukan sekedar menjalankan pendidikan rutin. Sains informasi akan memperkaya pendidikan kita yang saat ini kebanyakan diisi oleh pengajar lulusan LS ataupun LIS, mengingat IS masih sangat baru di Indonesia. Bagaimana pun kita tetap harus optimis bahwa keilmuan IS akan dapat meningkatkan pengetahuan kita terkait dengan informasi dan pengetahuan.*

Notulensi Bincang Senang Kepustakawanan “What is Information Science?”
bersama Ida Fajar Priyanto, Ph.D
Minggu, 29 April 2018

___________________________________
[1] Lih. Ida Fajar Priyanto, Information Science, Library Science, and LIS: Their development, makalah tidak diterbitkan.
[2] Michael Buckland, Information as thing. Journal of the American Society for Information Science (1986-1998), 42(5), 1 Juni 1991, hlm. 351.
[3] Belkin, Nicholas J. "The cognitive viewpoint in information science." Journal of information science 16.1, Februari 1990, hlm. 11-15.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Buku "Menuju Era Baru Dokumentasi"