Masyarakat Dokumen?


Dalam tulisannya “Document Theory: An Introduction”, Buckland (2013) mengatakan bahwa masyarakat kita saat ini lebih tepat disebut sebagai "masyarakat dokumen" ketimbang "masyarakat informasi". Sebabnya, hidup kita sehari-hari semakin tergantung dengan dokumen. Baik interaksi maupun kontrol sosial juga semakin banyak terjadi secara tidak langsung dan difasilitasi lewat dokumen. Sebagai contoh, saat kita berkomunikasi melalui pesan atau Whatsapp.


Teori Dokumen

Pengertian dokumen tidak sebatas pada dokumen pustaka. Hal ini sudah disadari oleh ilmuwan dan praktisi dokumentasi akhir abad ke-19, seperti Paul Otlet (1868-1944). Menurutnya, spesimen biologi dan objek museum pun dapat disebut sebagai dokumen. Hal ini diperkuat dengan pendapat Suzanne Briet (1894-1989):

Is a star a document? Is a pebble rolled by torrent a document? Is a living animal a document? No. But the photographs and the catalogues of stars, the stones in a museum of mineralogy, and the animals that are cataloged and shown in a zoo, are documents.

Sesuatu bisa dibuat dengan tujuan sebagai dokumen, tetapi dapat juga sesuatu menjadi dokumen karena dimaknai sebagai dokumen, selama manusia memberi makna yang fungsinya sebagai "docere" atau "doceo" (to tell, inform, instruct, demontrate, show, teach, command, and to produce a play). Singkatnya, menurut Blasius Sudarsono, semua yang yang melaksanakan fungsi dokumen adalah juga dokumen.

Walaupun kelihatannya dokumen bisa diartikan begitu luas, paling tidak ada beberapa "syarat" yang menjadikan sesuatu sebagai dokumen, yaitu: indexicality, complementary, fixity, documentality, dan productivity. Lebih jauh mengenai pengertiannya masing-masing dapat dibaca pada artikel "What is a document" di http://documentacademy.org/?what-is-a-document.

Konvergensi Lembaga Dokumenter

Pemahaman bahwa semua koleksi lembaga dokumenter berisi pengetahuan yang untuk kepentingan masyarakat melahirkan kebutuhan konvergensi di antara lembaga dokumenter. Yang dimaksud di sini bukan konvergensi secara fisik, melainkan konvergensi konsep.

Secara fisik, pengelolaan masing-masing koleksi dikerjakan secara terpisah oleh lembaga masing-masing seperti perpustakaan, arsip, museum, dan galeri. Namun, secara konsep, pengelolaan koleksi tersebut akan lebih mudah dipahami dengan pendekatan bahwa yang dikelola merupakan dokumen. Teori dokumentasi dapat menjadi tulang punggung dari proses konvergensi tersebut.

Penutup

Kenyataannya, konsep baru dokumentasi ini baru dikenal oleh beberapa gelintir orang. Bersama Niels Winfeld Lund dari Norwegia dan W. Boyd Rayward dari Australia, Michael Buckland mendirikan Documentation Academy pada 2003, serta pertemuan tahunan DOCAM. Dari DOCAM itulah muncul konsep-konsep tentang ilmu dokumentasi baru.

Di Indonesia, khususnya, masih banyak yang belum menerima konsep baru tersebut. Menjadi tantangan bagi kita untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya dokumentasi, mulai dari dokumentasi pribadi, keluarga, masyarakat lingkungan terdekat sampai pada tataran negara. Semua itu diawali dengan mempelajari teori dokumentasi baru. Maukah kita?

Notulensi Bincang Senang Kepustakawanan “Masyarakat Dokumen?”
bersama Blasius Sudarsono 
Minggu, 11 Maret 2018



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebih Lanjut tentang Integrasi Dokumentasi

Strategi Membangun Budaya Literasi di Era Digital

Mengantar ke Gerbang Kemerdekaan Berpikir tentang Ilmu Dokumentasi