Information Science: Theory, Research, Application


Tahun baru, nama baru. Pada 1 Januari 1968, "the American Documentation Institute" resmi mengganti namanya menjadi "the American Society for Information Science." Istilah "dokumentasi" berubah menjadi "informasi" (Borko, 1968). Perubahan ini menjadi benang merah tiga diskusi daring Kappa Sigma Kappa Indonesia (KSKI) sebelumnya.
Meski information science atau sains informasi tergolong "muda", Saracevic optimis ilmu ini dinamis. Membuka peluang untuk eksplorasi. Syaratnya, ada ruang yang luas bagi praktisi dan akademisi untuk berkontribusi. Karena pada dasarnya, teori dan praktik tidak dapat dipisahkan. 

Karena dinamis, maka tak heran jika pengertian sains informasi beragam. Bawden (2015) mendaftar sejumlah pengertian tersebut. Mulai dari pengetahuan terfragmentasi (Bertie Brookes). Hingga pola organisasi dari materi dan energi yang memberikan makna pada makhluk hidup (Marcia Bates). 

Saracevic (2009) sendiri mendefinisikan sains informasi sebagai sains dan praktik berkenaan dengan pengumpulan, penyimpanan, temu kembali, dan pemanfaatan informasi. Atau lebih spesifik lagi, suatu ranah dari praktik profesional dan penyelidikan ilmiah mengenai komunikasi yang efektif dari informasi dan objek informasi, khususnya rekaman pengetahuan, di antara manusia dalam konteks sosial, organisasi, dan kebutuhan individu untuk dan dalam menggunakan informasi.

Sains informasi merupakan kombinasi disiplin yang beragam pula. Sebut saja ilmu komputer, ilmu perpustakaan, filosofi dan taksonomi, linguistik, sibernetik dan robotik, dan matematika (Wersig dan Neveling, 1975).

Keragaman ini tidak perlu dipermasalahkan. Jauh lebih utama memahami mengapa ilmu ini ada. Sains informasi lahir bukan sebagai fenomena semata. Tetapi karena ada kebutuhan. Dengan perkembangan teknologi baru, proses komunikasi sosial menjadi makin rumit. Tantangannya, bagaimana pengetahuan disampaikan kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah tanggung jawab sosial dari ilmu informasi. Maka diperlukan riset.

Pada 1928, Harry Nyquist, Ralph Hartley, dan Claude Shannon merintis pengukuran kuantitatif pertama tentang informasi. Rochester dan Vakkari (2003) mencatat perkembangan tren penelitian Library and Information Science antara tahun 1965-1995 secara global. Tahun 2018, tren penelitian mengenai informasi berorientasi pada manusia. Ide-ide “gila” tumbuh subur bak jamur. Misalnya, mengukur dB rata-rata dan jarak antara satu pengguna dengan pengguna lainya sehingga mereka merasa nyaman. Atau meneliti pola gerak mata ketika mengakses OPAC. Konon penelitian berorientasi pengguna ini belum populer di Indonesia. Ini peluang.

Selain itu, tumbuh pula yang disebut "Special Interest Group" atau pengelompokkan penelitian dalam bidang LIS. Contohnya, ASIS&T Special Interest Groups. Atau Association for computing machinery special group bagi yang minatnya beririsan dengan ilmu komputer.

Riset tidak bisa dipisahkan dari kalangan akademisi. Sebagian universitas yang menawarkan program ilmu informasi bergabung dengan iSchool. Syaratnya? Harus ada program menggunakan bahasa Inggris. Ada publikasi internasional. Ada profesor dengan jumlah yang signifikan. Serta tak lupa, biaya untuk mendaftar.

Salah satu anggotanya adalah fakultas Library, Information, and Media Studies di University of Tsukuba, Jepang. Anggota fakultas dibagi menjadi lima divisi: Information Principles and Design, Information Circulation, Media Innovation, Human Information Interaction, dan Information & Society. Tiap pengajar punya laboratory. Semacam study room. Agar mahasiswa bimbingannya bisa berinteraksi dan berkonsentrasi terhadap penelitiannya. 

Tanya Jawab

Pertanyaan 1

Dian Novita F.
:
Kalau tidak salah Anda punya penelitian terkait informasi bencana. Sepertinya penanganan bencana di Jepang menarik.

Rahmi
:
Betul, saya meneliti tentang tahap temporal pada perilaku pencarian informasi sewaktu bencana. Saat ini sedang mengembangkan model perilaku pencarian informasi dengan melihat sensorik pada manusia ketika bencana.

Semua dataset yang saya gunakan dari bencana 2011 silam. Dataset pertama, 118 orang saya dapatkan dari city council (kantor kelurahan), dan dataset kedua 275 orang, saya dapatkan atas kerjasama dengan arsip bencana dari NHK. Dokumen dan arsip tentang bencana sangat lengkap. Tapi belum ada yang meneliti menggunakan dataset tersebut. Kebanyakan dataset dari penelitian besar didapat dari media sosial.

Pertanyaan 2

Purwoko
:
Di Indonesia sudah ada alumni iSchool yang pustakawan? Kira kira ada rekomendasi yang bisa saya teladani? 

Rahmi
:
Ada, namanya Mbak Winda Monika (pustakawan di Universitas Islam Riau, dan kebetulan sudah lulus master dari Tsukuba, Jepang). Penelitian beliau tentang Metadata khususnya dalam bidang Cultural Heritage.

Pertanyaan 3

Heriyanto
:
Penelitian seperti apakah yang bisa dilakukan di Indonesia, yaitu penelitian yang mengikutsertakan pengguna dalam eksperimen sosial? Apabila ada studi yang mengobservasi perilaku informasi masyarakat yang sedang ditimpa bencana apakah itu bisa dikategorikan sebagai penelitian yang mengikutsertakan pengguna dalam eksperimen sosial?

Rahmi
:
Bisa. Metode yang saya gunakan adalah content analysis. Jadi, saya mengumpulkan dokumen yang berisi wawancara ketika masyarakat terkena bencana yang bernama oral documents (dari bidang dokumentasi). Bukan interview secara langsung. Kemudian, saya mempunyai suatu konsep yang saya pinjam dari bidang Sosiologi, yaitu temporal stages of disaster. Lalu, saya meng-hire 2 orang sebagai intercoder untuk voting setiap kalimat di dokumen tersebut. Hasilnya berupa behavioural pattern yang dapat memprediksi dan menyarankan peristiwa bencana selanjutnya.

Contoh lainnya seperti yang saya sudah paparkan. Penelitian S1 yang kemudian diterbitkan di konferensi skala internasional, dan yang beririsan antara ilmu perpustakaan dan ilmu informasi lainnya adalah: 

·      Meneliti tentang ketebalan tembok perpustakaan, berapa dB rata-rata untuk kenyamanan pengguna dan berapa jarak antara pengguna yang satu dengan yang lainnya.
·      Meneliti tentang pola gerak mata (eye-tracking) ketika mengakses mesin pencarian atau OPAC di beberapa perpustakaan?
·      Ketika menonton konten digital, contoh Ted talk, atau video perpustakaan, apa yang membuat orang bertepuk tangan? Apakah dalam keadaan gelap atau terang? Apakah bisa mendeteksi emosi dengan menggunakan neuroheadset?

Pertanyaan 4

Agsan
:
Bagaimana pendapat Anda tentang kondisi pengelolaan arsip di Indonesia? Faktor apa yg menyebabkan masih banyaknya masyarakat atau organisasi yang tidak aware dengan arsip? Apakah ada pendekatan ilmu yang bisa digunakan untuk merubah kondisi masyarakat dan organisasi yang tidak aware dengan arsip tadi?

Rahmi
:
Harus ada user studies mengenai penggunaan kearsipan di Indonesia. Sebagai contoh, dalam satu tahun, ada berapa pengguna arsip fisik maupun digital. Apabila fokusnya arsip fisik, pengguna bisa ditelusur untuk kemudian mengisi survei yang disediakan institusi arsip. Saya mengacu pada mixed methods dalam pengambilan data behaviour pengguna. Selain survei, institusi bisa mewawancarai pengguna. Saran-saran tersebut yang akan mengembangkan pusat arsip kedepannya.

Apabila fokusnya arsip digital, bisa dilihat pada berapa views yang diakses oleh pengguna. Yang paling banyak, bisa dijadikan acuan asumsi, 'mengapa arsip ini yang lebih banyak di akses'.

Namun, adakah user studies yang sudah dilakukan?

Agsan
:
Ada penelitian mahasiswa S1 ilmu perpustakaan yang mengkaji tentang evaluasi penggunaan sistem informasi kearsipan di tempat saya bekerja dengan pendekatan ilmu informasi. Sayangnya penelitian tersebut kurang menggambarkan bagaimana respon user terhadap keberadaan suatu sistem kearsipan

Rahmi
:
Semoga bisa dikembangkan penelitian tersebut. Mungkin perlu dikenalkan dengan statistika, karena akan berpengaruh terhadap signifikan atau tidaknya hubungan antara pengguna dan pusat arsip tersebut. 

Pertanyaan 5

Nita
:
Apakah penelitian tentang informasi kesehatan seperti perilaku kebutuhan kelompok pasien tertentu terhadap Biblioterapi, bisa menjadi suatu penelitian yg diajukan di scope internasional?

Rahmi
:
Sangat bisa, tapi di setiap penelitian harus ada satu novelty atau kebaruan yang harus ditawarkan. Misalnya, kalau mendapat inspirasi dari jurnal terbitan di Eropa, dan kemudian hasilnya ingin di buktikan di Indonesia, itu merupakan suatu kebaruan lokasi.

Ketika eksperimen penelitian gagal atau berhasil, itu sangat perlu dilaporkan ke publik. Kalau gagal, agar para peneliti selanjutnya belajar dari kegagalan. Kalau berhasil, bisa dipraktekan di tempat lain, atau bisa dilihat dari sisi demografi lainnya, misalnya waktu, umur, gender, dan lainnya.

Saya belajar dari bidang ilmu pasti yang mature, seperti kedokteran. Misalnya, ada operasi gagal. Mereka langsung membuat colloqium atau diskusi singkat sekitar 10 menit untuk membahas mengapa gagal, dan adakah cara untuk menjadi lebih baik.

Pertanyaan 6

Wardiyono
:
Apakah ilmu perpustakaan itu masih perlu? Ke depan seperti apa kira-kira ilmu perpustakaan?

Rahmi
:
Saya percaya dan yakin sekali kalau Ilmu Perpustakaan sangat diperlukan dan banyak sekali yang harus dikembangkan. Ilmu perpustakaan memiliki cakupan yang luas, mulai dari perpustakaan nasional, hingga kesatuan yang terkecil, yaitu pusat komunitas. Perkembangannya bisa dilihat pola pengguna. Lagi, saya kurang tahu apa yang terjadi di Indonesia. Terlepas dari fungsi utamanya, sirkulasi, dan lainnya, di Jepang, ada beberapa perpustakaan yang menyediakan kids corner untuk orang tua yang bekerja. Di US, ada yang menyediakan jas untuk para pelamar kerja tidak kesulitan untuk mencari kemeja, dan lainnya. Jelas, pengembangan koleksi dan organisasi di dalamnya perlu ditingkatkan juga.

Kedepannya, ilmu perpustakaan diharapkan memiliki koneksi ke pelbagai institusi terkait seperti museum, arsip, dan pusat komunitas. 

Nita
:
Mohon tanggapan jika dikatakan bahwa Ilmu informasi mencakup Ilmu Perpustakaan. Untuk menghadapi tantangan global maka diperlukan perluasan kompetensi ke arah penguasaan ilmu informasi.

Rahmi

:
Munculnya kata 'informasi' sendiri dipelopori oleh bidang ilmu perpustakaan, terutama para trained librarian tahun 1975. Perpustakaan dikenal dengan tempat informasi berdasarkan bagan DIK-W, data-informasi-knowledge-wisdom. Jadi, ada urgensi untuk memperluas pemahaman bagaimana caranya mengelola informasi itu sendiri. Hemat saya, tidak ada ilmu informasi, jika tidak ada ilmu perpustakaan.

Pertanyaan 7

Ning
:
Saya tertarik dengan hasil penelitian Anda terkait riset bencana dan sensorik (disaster- and sensory-related research)

Rahmi
Mohon maaf sebelumnya, karena paper yang pertama tentang disaster- masih dalam proses produksi dan akan diterbitkan pada JASIST. Pun paper kedua sedang tahap review. Akan saya sebarkan jika sudah ada DOI-nya.

Pertanyaan 8

Ayu
:
Apakah dalam bidang ilmu informasi ini khususnya perpustakaan merupakan hal yang menarik untuk diperbincangkan oleh masyarakat umum. Atau memang hanya terfokus pada penjagaan suatu buku di dalam perpustakaan (dalam praktisnya). Memang dalam kenyataannya sekarang perpustakaan sudah mulai berkembang maju untuk mengintegrasikan informasi dengan digital. Namun lagi lagi kita seperti terbelenggu dengan aktifitas keseharian di perpustakaan saja, rasanya ingin memecah tembok tebal itu (dalam hal ini melakukan riset) membantu melakukan penemuan atau pembuktian suatu teori, tidak mudah mendapatkan dukungan dari instansi tempat kami bekerja.

Rahmi
:
Manajemen waktu dan proses perijinan untuk melakukan riset di institusi terkait ya? Mungkin harus diawali dengan komunikasi yang baik dengan para petinggi, dan dijabarkan apa keuntungan untuk dilakukannya penelitian.

Ayu
:
Apakah keinginan besar Anda dalam membantu pengajaran atau penyampaian bidang keilmuan perpustakaan yang dalam hal ini juga ada yang menamainya ilmu perpustakaan dan informasi? 

Rahmi

Karena jumlah studi di Indonesia sangat minim di kancah internasional. Jujur, ketika saya menghadiri konferensi yang berhubungan dengan ilmu informasi, baik dalam bidang ilmu perpustakaan dan ilmu komputer, sangat minim partisipan dari Indonesia. Hari pertama saya dengan bangga memakai batik, dengan harapan, semoga ada orang Indonesia nanti bisa langsung kenal. Namun, tidak seperti yang diharapkan. Saya sangat amat berkeinginan para akademisi, pustakawan, praktisi dalam bidang manapun, mahasiswa, dan lainnya, eksis di kancah internasional.

Pertanyaan 9

Rina
:
Dalam konteks budaya jepang sendiri, informasi cenderung dipahami dengan pendekatan apa? Sosial/humaniora/komputer?

Rahmi

Sebagian besar mengarah ke komputer, lebih spesifiknya pada artificial intelligence dan machine learning. Mereka menggabungkan teori yang sudah ada pada beberapa studi sosial pada antropologi, psikologi, dan sosiologi. Namun, ada implikasinya pada ilmu perpustakaan. Misal, ada eksperimen human-information-interaction yang ketika membaca suatu buku bisa dideteksi emosinya dengan menggunakan neuroheadset, dan sebagainya.

Alat-alat lifelogging inilah yang membantu perpustakaan mengembangkan jasanya. Lifelogging adalah aplikasi misalnya pengukur waktu dalam membaca, dan lainnya. Kebanyakan berfokus pada teknologi untuk meningkatkan services atau jasa untuk pengguna

Pertanyaan 10

Bagus
:
Apakah sains informasi ini scope-nya hanya untuk pendidikan perguruan tinggi. Jika tidak, bagaimana cara aplikasi paling mudah utk penerapan sains informasi di level pendidikan paling rendah (anggaplah SD)?

Rahmi
:
Pada aplikasinya, betul ilmu informasi untuk mengetahui pola bagaimana manusia mendapatkan, mencari, mengorganisir informasi yang didapat. Pengaplikasian pada anak SD adalah dengan membantu mencari informasi yang benar dan tepat. Pada pembagian pengembangan psikologi umur (Erikson's stages of psychosocial development), anggap bahwa anak SD itu bertembat di Early childhood (5-8 tahun). Pertanyaan mereka akan berkisar pada "apakah bisa saya bergerak dan bermain?" dengan bantuan satuan terkecil yaitu keluarga. Jadi, aplikasi ilmu informasi ini bisa diaplikasikan pada membuat peralatan sederhana atau DIY (Do It Yourself).

Ayu
:
Lalu jika untuk usia diatas 12 tahun?

Rahmi
:
Di atas 12 tahun berarti masuk ke Adolescence (13-19 tahun), tujuan mereka akan mengarah pada pertanyaan seperti, 'Siapa saya? Akan menjadi apa saya?' Ini krusial, karena pada umur 13-19 tahun, mereka akan mencari informasi tentang role model, dan signifikasinya ada pada lingkup sosial, contoh teman terdekat.

Pertanyaan 11

Purwoko
:
Apakah Anda berminat menjadi pustakawan setelah menyelesaikan pendidikan S3? Jika mungkin, apa kira kira kegiatan keseharian sebagai pustakawan yang akan dilakukan di perpustakaan yang dikelola terkait hubungan dengan pemustaka?

Rahmi
:
Kalau ditanya kemungkinan, bisa saja, Pak. Banyak sekali lulusan S3 yang bekerja sebagai pustakawan, contohnya di negara Skandinavia.

Tapi kalau ditanya minat, saya senang sekali meneliti dan melihat data dan angka, jadi mungkin adanya librarian-researcher akan sangat memenuhi minat saya.

In my very humble opinion, adanya divisi research development di setiap perpustakaan akan sangat penting dalam perkembangan baik untuk pemustaka dan perpustakaannya.

Adakah profesi librarian plus researcher di Indonesia, Pak?

Blasius
:
Tentang ranah kerja S3 IP&I, sewaktu saya memimpin PDII saya mengusulkan Sdr. Engkos Koswara Ph.D masuk Jabatan Fungsional Peneliti Bidang Dokumentasi, Perpustakaan dan Informasi. Itu berhasil. Sehingga PDII punya Jabfung Pustakawan dan Peneliti. Saya minta mereka bekerjasama dalam penelitian. Sdr. Engkos bahkan mencapai tingkatan Profesor Riset. Sampai sekarang hanya PDII yg punya Peneliti IP&I.

Rahmi
:
Seperti paparan Pak Blasius dan Pak Heriyanto. Lulusan S3, bisa saja bekerja di perpustakaan. Namun, mereka pada dasarnya mengeyam pendidikan yang terpusat pada bidang penelitian dengan menciptakan model baru atau menginovasi suatu produk atau jasa.

                        
Kesimpulan

Di University of Tsukuba, Jepang, ilmu informasi tidak meniadakan eksistensi ilmu perpustakaan, tetapi dapat berjalan beriringan. Meskipun ilmu informasi diarahkan pada pada artificial intelligence dan machine learning, tetapi bisa diaplikasikan untuk kepentingan perpustakaan. 

Jika dikaitkan dengan kebutuhan, ilmu informasi berpeluang besar untuk tumbuh subur di Indonesia. Ambil contoh, penelitian tentang bencana. Hasilnya berupa behavioural pattern yang dapat memprediksi dan menyiapkan masyarakat dalam menghadapi peristiwa bencana selanjutnya. Apalagi jika dituangkan ke dalam kebijakan.

Tantangan yang perlu dicermati yaitu soal minimnya partisipasi Indonesia dalam konferensi yang berhubungan dengan ilmu informasi. Serta berkembangnya special interest group dalam ranah keilmuan ini. Siapa berani menjawab?* 

Notulensi Bincang Senang Kepustakawanan 
"Information Science: Theory, Research, Application" bersama Rahmi
Jum'at, 5 Oktober 2018


*Bagian pembuka tulisan disarikan dari pengantar diskusi "Information Science: Theory, Research, and Its Application" (Rahmi, 2018). Versi lengkap dapat diunduh di https://drive.google.com/open?id=1zTLXsGkf6yhVb7PdHGDVloQvuf-ir67O.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebih Lanjut tentang Integrasi Dokumentasi

Strategi Membangun Budaya Literasi di Era Digital

Mengantar ke Gerbang Kemerdekaan Berpikir tentang Ilmu Dokumentasi