Tantangan Penelitian dalam Bidang Dokumentasi

"Menuju Era Baru Dokumentasi" deserves a shoutout!



Gambar 1. 'Dokumentasi adalah simulasi kerja otak' (20/03/2017)

Sudah dua kali saya bertemu tatap muka dengan penulis buku ini yang merupakan seorang purna pustakawan utama Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI), Bapak Blasius Sudarsono
Pada tulisan kali ini, saya ingin berbagi pemikiran yang berkaitan dengan buku “Menuju Era Baru Dokumentasi.” Menurut saya, gaya penulisan buku ini sangat mudah untuk dibaca. Namun, buku ini perlu dibaca berulang kali, apabila pembaca ingin mengerti, memahami, dan meninjau dengan sangat konsep ‘dokumentasi.’ 

Disamping itu, terpacu dengan banyaknya kalimat,‘Adakah pribadi atau pihak yang berminat meneliti masalah tersebut?,’ saya merangkum beberapa tantangan penelitian yang diutarakan oleh Bapak Blasius dalam buku ini. 

Qu’est-ce que la documentation? (Apa itu Dokumentasi?)
Definisi ‘dokumen’ mempunyai karakteristik untuk memberikan bukti (Briet & Martinet, 2006), dan untuk memberikan informasi (Buckland, 1991). Namun, Frohmann (2004, 2009) berpendapat bahwa jika hanya mengandalkan definisi untuk mengartikulasikan sebuah konsep, maka akan memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah membatasi pembentukan pengetahuan baru (Frohmann, 2009).

Dalam karya klasik Buckland (1997), dia melemahkan gagasan tradisional bahwa sebuah dokumen harus menjadi catatan tekstual dengan menggambarkan bagaimana seorang “dokumenter" (documentalist) harus menekankan bahwa apa pun dapat berfungsi sebagai dokumen dibanding hanya ditinjau dari bentuk dokumen fisik.” (Buckland, 1997).

Pernyataan ini diikuti oleh pengamatan Briet (2006) bahwa orang dapat mendapatkan informasi dari benda, kejadian, dan laporan (communiqu├ęs) yang disengaja (Buckland, 1991). Karya Buckland ini terinspirasi oleh karya di Briet (2006) setelah menegaskan definisi dokumen yang mengakomodasi sejumlah modalitas yang berbeda, termasuk binatang, seperti antelop, dan diskusi lisan - khususnya, seorang profesor yang sedang mendiskusikan materi pelajaran saat mengajar. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana seseorang mengidentifikasi sebuah dokumen dengan mencatat fungsinya untuk diinformasikan?

Di Indonesia, sudah tertera sejak lama pada ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1956 mengenai Pembentukan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI), disebutkan secara implisit tentang dokumentasi dan menyatakan salah satu kewajiban MIPI adalah ‘… menyelenggarakan pendaftararan kepustakaan dan benda-benda lain yang berharga untuk ilmu pengetahuan, yang terdapat di Indonesia (Pasal 4 Huruf d.)’

Sejumlah ilmuwan studi dokumen menjelaskan bahwa sebuah dokumen dapat diidentifikasi dengan definisi atau dengan mencatat praktik yang memberikan bukti atau memungkinkan untuk mendapatkan informasi (Buckland, 1991, 1997; Day, 1997; Briet & Martinet, 2006; Frohmann, 2004). Kedua pendekatan tersebut mengungkapkan bahwa konsep dokumen mengakomodasi berbagai cara untuk dianalisa (Buckland, 1997; Day, 1997; Briet & Martinet, 2006; Frohmann, 2009).

Sudah ada dua resensi atau ulasan buku “Menuju Era Baru Dokumentasi” oleh Subhan, A. (2017) dan Sulistyorini, D. (2017). Namun, saya menaruh perhatian terhadap apa yang dipaparkan oleh Pak Blasius dalam banyaknya kesempatan ide-ide penelitian yang dapat diaplikasikan. Saya menyebutnya tantangan penelitian dalam bidang dokumentasi.


Tantangan Penelitian di Bidang Dokumentasi 
Pada kalimat pembuka dalam buku ini, ‘Semua kebenaran merupakan produk identifikasi logis terhadap fakta pengalaman (Rand, 2003).’ Saya berpendapat bahwa ide-ide penelitian bisa didapatkan dari mana saja, terutama dari membaca. Dari pengalaman membaca, kita bisa mendapatkan beberapa pengetahuan, salah satunya tantangan penelitian. Di buku ini, ada beberapa tantangan penelitian yang dipaparkan oleh Bapak Blasius, contohnya, ‘Saya mengharapkan ada pihak yang mau menyempurnakan konsep atau pemikiran umum tentang dokumentasi’ (hal. 14). Selain itu, saya mengulas lima belas poin paparan tantangan ide penelitian yang mungkin bermanfaat bagi peneliti muda umumnya di bidang di bidang LIS (Library and Information Science) dan GLAM (Galleries, Libraries, Archives, and Museums) dan khususnya dalam bidang dokumentasi.

i. Pusdokinfo menggabungkan fungsi perpustakaan, dokumentasi, dan layanan informasi. Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana sebenarnya kata dokumentasi itu digunakan dan dimaknai (hal. 18).

ii. Seperti juga Paul Otlet, Doknker Duyvis menjadi legenda bagi FID. Buckland berpendapat bahwa sejarah Donker Duyvis perlu segera disusun agar peran pentingnya diketahui lebih luas (hal. 53).

iii. Dalam laporan Suzanne Briet, terungkap bahwa pada 1950 Indonesia sudah menjadi anggota Federasi Internasional Dokumentasi (FID). Keanggotaan Indonesia pada FID juga ditulis oleh Kusnoto Setyodiwiryo dalam makalah prasaran Konferensi Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia Pertama di Bandung tahun 1957. Meskipun disebut dalam dua tulisan, tidak dijelaskan apa, mengapa, dan bagaimana dokumentasi yang dilaksanakan di Indoneisa. Hal ini tentu menjadi sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut (hal. 55).



iv. Untuk memaknai kata dokumentasi dalam lingkungan LIPI, tentu perlu disepakati arti kata ‘dokumentasi’ dalam Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional (PDIN). Selanjutnya, lembaga itu berganti nama menjadi Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI). Muncul beberapa pertanyaan yang telah diakiulan pada awal dasawarsa 1990, yaitu? 
· Apa yang dimaksud dengan dokumentasi?
· Apakah bedanya dengan perpustakaan?
· Mengapa masyarakat lebih mengenal PDII-LIPI sebagai perpustakaan?
· Apakah memang kebijakan LIPI mengarahkan PDII-LIPI menjadi perpustakaan?
· Berbagai pertanyaan lainnya diajukan (hal. 59).

v. … dalam praktiknya, sampai sekarang, masih saja penunjukkan kepala unit dokumentasi atau perpustakaan tidak sepenuhnya mengikuti aturan tersebut. Apakah apresiasi pimpinan lembaga terhadap unit dokumentasi atau perpystakaan tidak setinggi apresiasi pimpinan lembaga pemerintah pada 1960-an? Ataukah karena peraturan (Peraturan Presiden RI No 20 Tahun 1961 tentag: tugas-kewajiban dan lapangan pekerjaan dokumentasi dan perpyustakaan dalam lingkungan pemerintah) ini tidak pernah disosialisasikan sehingga banyak pimpinan lembaga tidak mengetahui? Atau justru petugas dokumentasi atau perpustakaan tidak acuh terhadap nasibnya sendiri dan tidak mau berjuang? … Namun kesempatan itu tidak pernah digarap lebih lanjut, baik oleh petugas dokumentasi maupun petugas perpustakaan. Tidak jarang terdengar keluhan bahwa unit dokumentasi atau perpustakaan kekurangan dana (hal. 81).

vi. Dua dokumen resmi (Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1956 dan Peraturan Presiden atau dikenal sebagai UUPRPS Nomor 20 Tahun 1961) adalah sumber awal konsep dokumetasi di Indonesia. Kedua dokumen tersebut belum sepenuhnya dijabarkan dan dimaknai lebih dalam oleh para pustakawan, dokumetaslis, dan arsiparis waktu itu, padahal kedua dokumen tersebut layak dikaji ulang untuk merumuskan konsep dokumentasi yang sangat diperlukan sekarang. Banyak hal dapat dijabarkan dari dua dokumen tersebut yang dapat menjadi kekuatan lembaga atau profesi perpustakaan, dokumentasi, maupun kearsipan (hal. 83).

vii. Dokumentasi di Indonesia? (hal. 83).

viii. Penulusuran teori dokumentasi dari dalam negeri hanya menemukan beberapa tulisan tentang bagaimana mengerjakan tugas dokumentasi. Karya yang ditemukan terbatas pada bahasan how to do, padahal yang diperlukan adalah bahasan tentang why to do, dan atau how to develop (hal. 88).

ix. Menjawab mengapa dokumentasi menjadi terlupakan di Indonesia bukanlah pekerjaan mudah. Harus dilakukan penelitian ilmiah atas fenomena dan perlu keseriusan. Terutama dengan munculnya ilmu dokumentasi baru (hal. 100).

x. Menurut Buckland, isu mendasar adalah bahwa seseorang hanya belajar dari dokumen karena pengaruh kuat dari apa yang sudah diketahuinya. Oleh karena itu, agar terjadi perkembangan, harus ada konsentrasi pada studi mengapa dan bagaimana dokumen digunakan (hal. 129).

xi. Perlu ada pola pikir yang membimbing pemahaman proses dokumentasi yang menjadi fungsi utama sebuah lembaga dokumenter. Sebelumnya, lembaga tersebut berjalan seakan-akan sendiri, bahkan kadang tanpa komunikasi diantaranya. Ke depan, berbagai lembaga tersebut pada dasarnya menangani objek yang sama, yaitu dokumen dalam pengertian yang baru. Logika dokumentasi diperlukan (hal. 147).

xii. Logika Dokumentasi dimaksudkan sebagai patokan (tanda-tanda) jalan dalam tamasya menuju pada pemahaman tentang dokumentasi. Bertolak dari pemahaman, dalam pelaksanaannya tentu diperlukan juga penghayatan. Dengan pemahaman dan penghayatan, diharapkan ada kebenaran dalam melaksanakan (sebagai proses) dan mewujudkan (sebagai produk) serta mengembangkan (sebagai ilmu) dokumentasi (hal. 149).

xiii. Hasil kajian tersebut hendaknya dapat ditindaklanjuti menjadi kolokium ilmiah antara para akademisi dan kaum praktisi. Suatu interaksi yang seharusnya secara bekesinambungan dilakukan (hal. 164).

xiv. Bibliografi kronologis ini baru sebatas data mentah yang harus selalu disempurnakan dan dimutakhirkan. Banyak pemikiran yang dapat dikembangan dari data mentah ini. Selanjutnya, dapat diolah agar lebih bermakna dan bernilai akademik. Minimal ada tiga hal terpenting, yaitu 1. Siapa saja tokoh dokumentasi dunia? 2. Menapa dan bagaimana mereka memikirkan dan mengembangkan? Serta 3. Bagaimana pasang surut pemikiran sehingga ilmu dokumentasi kini sangat berkembang mencakup hamper semua aspek kehidupan manusia? (hal. 189).

xv. Bibliografi kronologis literatur asing tentang dokumentasi yang menjadi titik tolak bagi siapa saja yang berminat mempelajari ulang dokumentasi. Bibiliografis belum mendaftar semua literatur dalam negeri sendiri (hal. 189).





Penutup
Para ilmuwan berulang kali mengakui bahwa orang lebih suka mendapatkan informasi dengan berbicara atau sharing information (Mai, 2016; Mackenzie, 2005; Turner, 2009). Selain itu, informasi didapatkan dengan mudah apabila berbicara tatap muka walaupun adanya proliferasi teknologi (Meehan, 2000; Sole & Edmondson, 2002). Saran ini menyiratkan bahwa satu metode untuk menemukan informasi baru terletak pada identifikasi komentar substantif yang disampaikan secara lisan.

Salah satu contoh pertemuan dalam bidang dokumentasi yang dikenal dengan DOCAM (Document Academy Meeting) menyampaikan hasil studi dan teori baru tentang ilmu dokumentasi. DOCAM merupakan wadah gerakan dokumentalis baru. Gerakan baru ini dipelopori oleh Rayward, Buckland, and Lund.

Implikasi ini diperkuat oleh bagaimana para ilmuwan semakin mengandalkan perspektif teoretis baru, dan konstruksionisme sosial. Menurut metateori ini, kontribusi terhadap pengetahuan dibuat secara tertulis, melalui tindakan (atau praktik), atau dengan berbicara (Mackenzie, 2005; Talja, Tuominen & Savolainen, 2005). Sumbangan yang berupa dialog ini akan menentukan realitas sosial (Talja, Tuominen & Savolainen, 2005).

Bagaimana kita menjawab tantangan penelitian tersebut? Apakah dengan kolaborasi? Mengingat bahwa kajian interdisipliner sangat giat dilakukan oleh para ilmuwan dan hal ini dapat dipresentasikan di sebuah kolokium (colloquium) bidang dokumentasi.


Selamat hari Pancasila, penanda hari dokumentasi di Indonesia, dan selamat membaca!

Rahmi | Tsukuba, 31 May 2017 
Ph.D Candidate in Graduate School of Library, Information, and Media Studies, University of Tsukuba, Japan


Referensi
  1. Briet, S., & Martinet, L. (2006). What is documentation?: English translation of the classic French text. Scarecrow Press.
  2. Buckland, M. K. (1991). Information as thing. Journal of the American Society for Information Science (1986-1998), 42(5), 351.
  3. Buckland, M. K. (1997). What is a" document"?. Journal of the American Society for Information Science (1986-1998), 48(9), 804.
  4. Day, R. (1997). Paul Otlet's book and the writing of social space. Journal of the American Society for Information Science (1986-1998), 48(4), 310.
  5. Frohmann, B. (2004). Documentation redux: prolegomenon to (another) philosophy of information. Library trends, 52(3), 387.
  6. Frohmann, B. (2009). Revisiting “what is a document?”. Journal of documentation, 65(2), 291-303.
  7. Mackenzie, M. L. (2005). Managers look to the social network to seek information. Information Research, 10(2), 10-2.
  8. Mai, J. E. (2016). Looking for information: A survey of research on information seeking, needs, and behavior. Emerald Group Publishing.
  9. Meehan, A. J. (2000). Transformation of the oral tradition of the police subculture through the introduction of information technology. In Sociology of Crime, Law and Deviance (pp. 107-132). Emerald Group Publishing Limited.
  10. Sole, D., & Edmondson, A. (2002). Situated knowledge and learning in dispersed teams. British journal of management, 13(S2), S17-S34.
  11. Subhan, A. (2017, February 21). Jejak-jejak Dokumentasi. Retrieved May 31, 2017, from https://www.facebook.com/notes/ahmad-subhan/jejak-jejak-dokumentasi/10156010610339152/
  12. Sudarsono, B. (2016). Menuju Era Baru Dokumentasi. Jakarta: LIPI Press.
  13. Sulistyorini, D. (2017, February 12). Pahami dokumentasi untuk kembangkan pengetahuan (A. Maruli, Ed.). Retrieved May 31, 2017, from http://www.antaranews.com/berita/612056/pahami-dokumentasi-untuk-kembangkan-pengetahuan
  14. Talja, S., Tuominen, K., & Savolainen, R. (2005). " Isms" in information science: constructivism, collectivism and constructionism. Journal of documentation, 61(1), 79-101.
  15. Turner, D. A. (2009). Conceptualizing oral documents (Doctoral dissertation, University of Washington).

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebih Lanjut tentang Integrasi Dokumentasi

Strategi Membangun Budaya Literasi di Era Digital

Mengantar ke Gerbang Kemerdekaan Berpikir tentang Ilmu Dokumentasi