Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Hocus Pocus dan Wisdom: Buah tangan UPIBOOKPEDIA 4.0

Gambar
Hendaklah tukang-tukang cerita waspada terhadap hal-hal bohong dan hikayat-hikayat yang menyajikan perbuatan salah, atau yang tujuan baiknya tidak dapat dipahamkan oleh umum, atau, cerita itu merupakan suatu pertarungan yang baik dengan buruk, lalu yang buruk mendapatkan pembelaan yang berlebihan sebelum dikalahkan oleh yang baik, hal ini memberanikan orang berbuat dosa (salah) – Imam Ghazali, Ihya Ulumudin

Sekitar Teori dan Praktik Kepustakawanan Kita

Gambar
Antara teori dan praktik tidak jarang dipertentangkan. Siaran televisi jaman dahulu, sering memunculkan iklan yang seakan tidak mempercayai teori dengan adanya ungkapan seorang pekerja pada rekannya: “Ah teori saja!” Memang antara teori dan praktik dapat berbeda jauh. Mungkin kita juga pernah melakukan praktik yang berdasar hanya pada insting kita saja. Padahal selalu ada keterkaitan antara teori dan praktik. Saya pernah lama (hampir 40 tahun) menjadi pustakawan praktisi yang termasuk senang memikirkan atau melamunkan tentang teori atau ilmu yang melatarbelakangi penyelenggaraan perpustakaan. Saya selalu mencari sejawat yang kiranya sepaham. Ada beberapa teman yang mempertanyakan apakah dalam praktik, kita harus selalu berangkat dari teori atau ilmu? Saya sering menjawab dengan mengatakan: “Mencopet saja ada ilmunya!” Mungkin jawaban ini bisa tidak mengenakkan bagi penanya. Cara menjawab saya mungkin aneh bahkan salah.

Strategi Membangun Budaya Literasi di Era Digital

Gambar
*Artikel disampaikan pada Seminar Nasional Literasi 2017 Peran Pustakawan Dalam Pendidikan Literasi Informasi Digital, Semarang, 15 Oktober 2017
Saya diminta Panitia Seminar untuk berbicara dengan judul di atas. Ada tiga kata kunci dalam judul tersebut yaitu: 1) strategi, 2) budaya literasi, dan 3) era digital. Jujur harus saya mengaku bahwa bahwa pengetahuan saya terkait tiga kata kunci tersebut sangat terbatas. Namun saya tetap mengingat apa yang sering diminta oleh Ibu Luwarsih sewaktu beliau menjadi atasan saya. Bahwa sebagai pustakawan pantang untuk mengatakan tidak tahu. Jika pustakawan menerima pertanyaan terkait informasi atau pengetahuan, meski belum tahu harus menjawab: “Akan saya carikan.” Itulah instruksi beliau kepada kami stafnya. Instruksi itu tetap tertanam dalam diri saya. Oleh sebab itu saya mencoba layaknya pustakawan referensi melayani pertanyaan terkait judul di atas. Jadi apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini adalah tafsir saya sebagai  pustakawan mengenai m…

Pustakawan Guru

Gambar
*Artikel disampaikan pada Seminar Nasional Peran Pustakawan Guru Dalam Mendukung Gerakan Literasi Sekolah di Abad 2, Bandung, 2 Maret 2017
Memenuhi permintaan panitia seminar, diharapkan paparan ini dapat menjelaskan: definisi pustakawan Guru; tips ringkas pemberdayaan perpustakaan; pendidikan pemustaka; dan kolaborasi Guru dan pustakawan dalam menopang Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Namun sebelum masuk pada materi bahasan sesuai permintaan, perlu saya sampaikan “catatan kecil” menyangkut tiga istilah yang dipakai dalam seminar ini. Ketiga istilah itu adalah “Literasi”; “Pustakawan Guru”; dan “Pemustaka”.

Mengantar ke Gerbang Kemerdekaan Berpikir tentang Ilmu Dokumentasi

Gambar
*Artikel ini disampaikan pada Seminar Nasional Peran Pustakawan di Era Perang Informasi dan Diskusi Buku Menuju Era Baru Dokumentasi, Semarang 9 Maret 2017

Untuk memahami isi buku: Menuju Era Baru Dokumentasi (MEBD), LIPI Press, 2016, perlu dibuat uraian yang diharapkan akan membantu mempermudah proses membaca dan memahami buku itu. Pertama yang harus disebut adalah, bahwa buku itu belum mengajarkan ilmu dokumentasi. Buku itu bukan buku ilmiah, namun juga bukan buku populer umum. Lebih tepat disebut sebagai karya semi ilmiah, karena belum mengajarkan ilmu dokumentasi meski lahir dari pembelajaran atas banyak referensi ilmiah dan pengalaman kerja. Buku tersebut dapat dikata baru bertujuan untuk mengantar pembaca ke gerbang kemerdekaan berpikir tentang ilmu dokumentasi. Upaya panjang pencarian makna dan ajakan berpikir lebih lanjut tentang ilmu dokumentasi adalah “roh” dari buku tersebut.

Lebih Lanjut tentang Literasi Informasi

Gambar
*Artikel ini disampaikan pada Seminar Peningkatan Daya Saing Bangsa Dengan Literasi Informasi, Surakarta, 3 Oktober 2017


Menurut cerita sejarah yang saya terima sewaktu saya masih bersekolah di Sekolah Rakyat (sekarang menjadi Sekolah Dasar), bahwa saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, 95% penduduk Indonesia masih “buta huruf”. Maka waktu itu segera dicanangkan gerakan nasional Pemberantasan Buta Huruf (PBH) untuk membuat masyarakat menjadi “melek huruf”. Dalam istilah baku, “melek huruf” adalah “beraksara” sebagai adjektiva dengan nominanya “keberaksaraan”. Padan kata dalam bahasa Inggris untuk 2 istilah itu adalah literate dan literacy. Perpustakaan Umum atau lebih tepatnya waktu itu disebut dengan istilah Taman Pustaka banyak didirikan untuk menjaga agar warga yang sudah “melek huruf” dapat tetap mempertahankan dan meningkatkan kemampuan­nya. Upaya mendirikan Perpustakaan Umum ini mendapat apresiasi dari United Nations of Educational, Scientific, and Cultu…

Lebih Lanjut tentang Integrasi Dokumentasi

Gambar
*Artikel ini disampaikan pada Pertemuan Integrasi Sistem JDIH Nasional, 18-20 September 2017


Di Indonesia, kerjasama antar perpustakan dalam sistem jaringan berawal pada 1971. Saat itu disepakati dibangunnya 4 sistem jaringan untuk ilmu sosial, ilmu pengetahuan-teknologi, ilmu biologi-pertanian, dan ilmu kedokteran-kesehatan. Sejak saat itulah muncul berbagai jaringan kerjasama dalam berbagai bidang lainnya. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional (JDIH Nasional) akhirnya dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 91Tahun 1999. Selanjutnya keputusan itu diperbaharui dengan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012. Dari berbagai kerjasama dalam sistem jaringan yang pernah dan masih ada, JDIH Nasional memiliki landasan hukum tertinggi karena diatur dengan sebuah Peraturan Presiden. Dengan demikian sudah seharusnya pelaksanaan dokumentasi hukum dilaksanakan dengan baik dan benar.  JDIH Nasional harus menjadi benteng terakhir menyangkut informasi dan pengetahuan terkait hukum…