Hocus Pocus dan Wisdom: Buah tangan UPIBOOKPEDIA 4.0



Hendaklah tukang-tukang cerita waspada terhadap hal-hal bohong dan hikayat-hikayat yang menyajikan perbuatan salah, atau yang tujuan baiknya tidak dapat dipahamkan oleh umum, atau, cerita itu merupakan suatu pertarungan yang baik dengan buruk, lalu yang buruk mendapatkan pembelaan yang berlebihan sebelum dikalahkan oleh yang baik, hal ini memberanikan orang berbuat dosa (salah) – Imam Ghazali, Ihya Ulumudin



Beberapa waktu lalu saya menghadiri seminar terkait peranan perpustakaan dalam menyikapi hoaks di era digital. Pemateri dari seminar tersebut, Onno W. Purbo, mengungkapkan bagaimana informasi dapat diintrepretasikan ulang dengan makna yang berbeda-beda setiap ia melewati sebuah channel dan bagaimana kita bisa jadi siapa dan apa saja di dunia digital; Donny B. U. memaparkan pentingnya Literasi Digital dan peranan pemerintah dalam rangka menangkal serangan hoaks; dan Rahmi yang memaparkan bagaimana organisasi informasi (GLAMS) dalam menghadapi banjir informasi di era digital.

Yang menarik adalah kata "hoax" telah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menjadi kata "hoaks" yang memiliki arti berita bohong. Etimologi penggunaan katanya dapat ditelusuri sampai abad 18 dari kata hocus (Oxford English Dictionary). Diduga kata ini berasal dari kata hocus yang sering digunakan oleh para pesulap dalam mengawali sebuah trik sulap. Hocus Pocus bermakna bagaimana seseorang akan memusatkan perhatiannya pada sesuatu sehingga orang seolah-olah tersihir padahal itu adalah sebuah trik. Ini juga yang terjadi pada berita hoaks yang menyihir kita agar fokus padahal sebenarnya terpedaya oleh informasi yang salah. Menarik untuk disimak bahwa informasi harus benar secara konten semantik. Maka apabila sebuah berita itu salah dapatkah disebut informasi? Beberapa orang mengklasifikasikan dan membedakan kata ini menjadi "Disinformasi" yang berasal dari data yang salah untuk kemudian sengaja disebarkan dan "Misinformasi" yang berasal dari data yang benar, tetapi disimpan dalam konteks yang salah dan membuat itu seolah-olah benar. Inilah bagian dari keluarga hoaks.

Menjadi manusia bijaksana adalah salah satu bagian dari tujuan LIS seperti yang terdapat dalam piramida DIKW yang banyak dikutip. Namun, bagaimana ilmu informasi ini dapat membuat orang menjadi bijaksana khususnya di Era Informasi? Masih sedikit orang yang membahasnya secara mendalam. Literasi Digital menawarkan kita untuk memahami lingkungan digital yang hari ini menjadi bagian kehidupan kedua (second life) kita. Dengan kemampuan ini, kita dapat memahami konteks, format, dan berbagai saluran yang digunakan untuk mendiseminasikan konten digital serta melakukan analisis sampai kreasi pengetahuan dari konten digital. Seperti yang dipaparkan Donny B. U., jika orang kesehatan memiliki program vaksinasi untuk menjaga kesehatan, lingkungan memiliki program reboisasi hutan yang gundul, maka kita memiliki literasi untuk membuat orang literat. Kita juga hidup dalam "Era Zettabyte" yang menyebabkan banjir informasi (information overload). Dalam menghadapi hal ini, Rahmi menawarkan konsep Digitalisasi hingga Personalisasi dengan menjadi orang yang skeptis terhadap pengetahuan yang ditemui lantas memeriksanya dengan bertanya pada diri mulai dari:

1. Konten apa yang saya temui?
2. Apakah informasinya lengkap? Jika tidak informasi apa yang tidak ada?
3. Siapa atau apa sumbernya dan mengapa saya harus mempercayainya?
4. Bukti apa yang disajikan dan bagaimana itu diperiksa?
5. Apa yang bisa menjadi penjelasan atau pemahaman alternatif?
6. Apakah saya mempelajari apa yang saya butuhkan?

Dengan keenam cara itu, seseorang dapat memeriksa apakah informasi itu benar atau salah. Lalu apakah organisasi informasi dapat menjadikan orang bijaksana? Dengan menggunakan Knowledge Management Concept kita dapat membuat sebuah sistem untuk merangkum pengetahuan yang ada dan memanfaatkannya menjadi Big Data GLAMS dan membuat orang menjadi bijak.

Waspada adalah salah satu bentuk kesadaran. Orang bijaksana adalah orang yang sadar akan diri dan lingkungan. Maka orang bijaksana di era informasi adalah orang yang waspada terhadap segala trik dan intrik dibalik informasi. Selalu bertanya pada diri apakah ini benar atau salah. Agar tidak tersihir oleh para pesulap informasi yang menebarkan berita bohong. Namun, yang menjadi pertanyaan di akhir tulisan ini, maukah orang menjadi bijaksana dengan informasi? Apakah itu mungkin?
___________

Rusdan Kamil
Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Pendidikan Indonesia,
tertarik pada kajian dokumentasi baru dan pengalaman informasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Buku "Menuju Era Baru Dokumentasi"