Diskusi Buku "Menuju Era Baru Dokumentasi"




Buku Menuju Era Baru Dokumentasi merupakan hasil perenungan penulis tentang makna dokumentasi selama 45 tahun bekerja di PDIN (Pusat Dokumentasi dan Informasi Nasional) yang saat ini berganti nama menjadi PDDI LIPI (Pusat Dokumentasi dan Data Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Gagasan tentang dokumentasi ditemukan pada huruf d pasal 4 UU Nomor 6 Tahun 1956 tentang Pembentukan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI), yaitu menyelenggarakan pendaftaran kepustakaan dan benda-benda lain yang berharga untuk ilmu pengetahuan, yang terdapat di Indonesia. Perhatian penulis saat itu tertuju pada benda-benda lain, tidak hanya bahan pustaka saja yang selama ini kita kenal. Sehingga ia berpikir bahwa dokumentasi seharusnya tidak hanya terbatas pada bahan pustaka saja.

Dalam prakteknya, terjadi oposisi antara dokumentasi dan perpustakaan. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Presiden (PerPres) Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1961 tentang Tugas-Kewajiban dan Lapangan Pekerjaan Dokumentasi dan Perpustakaan dalam Lingkungan Pemerintah. Pada pasal 1 disebutkan bahwa “Yang disebutkan dengan Dokumentasi dalam Peraturan Presiden ini adalah Dokumentasi Pustaka”. Inilah yang menjadi awal kebimbangan penulis tentang “apakah dokumentasi itu di Indonesia?”. Dengan tidak dimasukkannya benda-benda lain dalam konsep dokumentasi yang dikerjakan oleh PDII LIPI merupakan era dimana dokumentasi yang terlupakan di Indonesia. Namun ternyata dokumentasi juga dilupakan di Amerika. Pasca perang dunia kedua dengan membanjirnya informasi dan ditemukannya teknologi informasi dan komunikasi, sekolah-sekolah perpustakaan di Amerika terbuai dengan kata informasi dan melupakan ilmu aslinya yaitu dokumentasi.

Dalam perjalanannya, dokumentasi yang lahir di benua Eropa, khususnya di Belgia, Paul Otlet juga  mempertanyakan bahwa selama ini dokumen dimaknai dua dimensi mati, seperti teks grafis dan peta. Namun, jika tujuannya sama-sama untuk ilmu pengetahuan, mengapa yang lain tidak? Maka Paul Otlet menambahkan bahwa patung merupakan dokumen. Inilah menjadi awal pertanyaan yang menjadi perenungan para teoris tentang dokumentasi yang berkembang menjadi gerakan neo-dokumentasi. Penulis adalah seorang praktisi, tetapi praktisi yang berpikir seperti halnya Paul Otlet. Sedangkan di Perancis pada tahun (1894-1989), Suzanne Briet memasukkan antelop ke dalam dokumen yang juga berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar. Menurutnya dokumen adalah sesuatu yang bersifat indeks yang menunjukkan fakta. Jadi perkembangan dokumen dari tiga dimensi mati menjadi tiga dimensi hidup. Perkembangan definisi dokumen ini tidak lepas dari upaya mempertanyakan. Inilah yang disebut sebagai usaha perenungan secara filosofis. Namun, sayangnya dalam bidang Library and Information Science (LIS), pemahaman dokumen masih konvensional, seperti tulisan, grafis, dan lain-lain. Akan tetapi, berangkat dari pemikiran kritis inilah, orang-orang di Eropa banyak berangkat dari filsafat idealisme, sedangkan orang di Amerika lebih banyak pragmatisme. Seperti halnya makna dokumen yang diungkapkan oleh Briet dengan menggunakan pendekatan semiotik, mirip dengan semiologi bahwa apapun bisa dimaknai sebagai tanda, meskipun tanda dimaknai secara konsep. Di mana dokumen dimaknai apapun yang berfungsi sebagai dokumen disebut dokumen. Dalam bukunya, Lund mempertanyakan, “Apakah sebenarnya Briet sudah membaca pemikiran tentang semiotik di kala itu?”

Dalam bab VII tentang fokus pada dokumen, penulis membagi menjadi 2 bagian, yaitu: pra 2003 di mana dokumen masih fokus pada obyek dua atau tiga dimensi mati, dan pasca 2003 di mana pengertian dokumen lebih luas seperti live performance, body, dan lain-lain. Di mana pendekatan ini mirip dengan pendekatan semiotik, yaitu apapun dapat berfungsi sebagai tanda. Layaknya pengertian dokumen, apapun dapat dimaknai sebagai dokumen jika berfungsi sebagai dokumen. Pasca 2003 ini juga berkembang DOCAM (http://documentacademy.org/) yang rutin melakukan pertemuan setiap tahun. Tiga tokoh utama dalam DOCAM adalah Michael K. Buckland, Niels W. Lund, dan W. Boyd Rayward. DOCAM tidak hanya diikuti oleh orang-orang dari bidang LIS, namun juga dari budaya, filsafat, IT, psikologi. Bahkan yang akhir-akhir ini yang paling tertarik adalah orang-orang filsafat.

Salah satu orang filsafat yang mengikuti DOCAM adalah Ferraris yang mengembangkan konsep tentang documentality. Sebenarnya ia mengambangkan ontologi atau obyek dari pemikiran Searle, obyek adalah realitas sosial. Menurut Searle, realitas sosial pada dasarnya adalah intentionality. Namun dalam hal ini, Feraris mempertanyakan intentionality terkadang tidak dapat dijelaskan dengan jelas. Ferraris adalah teman dekat dari Derrida. Ferraris mengoreksi yang dikatakan oleh Derrida “There is nothing outside the text” kemudian ditambah “There is nothing social outside the text”. Searle mengatakan bahwa realitas sosial minimal ada dua orang yang menyaksikan, yang kemudian disebut dengan teori tindak tutur. Kemudian dipertanyakan oleh Ferraris, yang menurutnya memiliki kekurangan. Meskipun disaksikan oleh dua orang, misalnya pernikahan. Menurut Searle, pernikahan merupakan sebuah realitas sosial, karena tidak mungkin pernikahan tidak berangkat dari tindak tutur. Namun menurut Ferraris, tidak kuat karena tidak ada teksnya yang ia sebut sebagai documentality. Documentality dalam buku ini disebut sebagai “the power of document”.

Buku MEBD ini tidak bicara tentang “how to do” atau manajemen. Pada bab “fokus pada dokumen” ini yang ditawarkan oleh penulis untuk menjadi ilmu murni lembaga dokumenter di Indonesia, seperti perpustakaan, arsip, museum. Sebenarnya museum lebih menarik, karena apapun hasil dari alam maupun manusia selama untuk kepentingan ilmu pengetahuan disebut sebagai dokumen. Pengertian ini memberikan makna lebih inklusif dibandingkan perpustakaan maupun arsip.

Dalam hal ini, saya juga fokus pada konvergensi lembaga dokumenter. Pada dasarnya saat ini dunia sudah mendigital, di mana pengguna tidak mempermasalahkan dari mana asalnya, tetapi lebih kepada bagaimana pengguna dapat mengakses informasi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, inti dokumen adalah sebagai penyebar ilmu pengetahuan. Seperti pada pendekatan posmo, artinya harus menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, tawaran yang paling tepat adalah konvergensi. Dalam hal ini yang dimaksudkan konvergensi adalah konvergensi fungsi, bukan pada organisasinya. Secara praktik diserahkan kepada masing-masing lembaga, namun secara kemanfaatan inilah yang disbeutkan dengan konvergensi yang intinya adalah gotong royong. Di sinilah yang menjadi tantangan bagi lembaga dokumenter.

Selanjutnya inti dari buku ini adalah logika dokumentasi. Penulis sudah bergelut dengan filsafat sejak 1988. Driyakarya merupakan salah satu tokoh filsafat yang diidolakan, yang lebih mementingkan tentang kemanusiaan. Dalam logika dokumentasi ini, terdapat kata yang menarik yaitu “Pada awal mula adalah kehendak manusia untuk mengekspresikan apa yang dipikirkan dan dirasakan”. Kata “mengekspresikan” ini sebenarnya menarik, yang awalnya dari memori atau tacit knowledge, kemudian dieksplisitkan dalam berbagai bentuk, dapat berupa tulisan, bahkan janji pun juga bisa. Ekspresi inipun dapat berupa indrawi maupun nonindrawi. Dalam menjelaskan bahasa filsafat, penulis mejelaskan logika dokumentasi, yaitu; 1) dokumentasi sebagai proses, dari proses mengekspresikan, 2) dokumentasi sebagai produk, dalam berbagai bentuk baik fisik, maya maupun virtual. Dalam pendekatan pragmatis, dokumen harus dapat ditemukan kembali, itulah penting mendokumentasikan. Dalam hal ini penulis menyebutnya dengan “simulasi kerja otak”, di mana proses ini dikerjakan oleh pribadi masing-masing dan bekerja secara terus menerus seperti membentuk sebuah siklus. Ketika mengekspresikan dapat berupa berbagai bentuk, seperti janji, bahkan bahasa tubuh juga disebut dokumen. Ketika harus ditemukan kembali, live perfomance. Bagaimana dapat ditemukan kembali, ia harus berwujud. Berwujud ini dapat berupa rekaman, dan kemudian ditemukan kembali, dimasukkan ke dalam otak kita. Itulah yang dimaksud dengan simulasi kerja otak.

Hal tersebut mirip dari sudut pandang arsip. Pendekatan pada posmo ini mirip dengan pendekatan semiotik, “anything can be archive” dan “anything can be document” selama ia berfungsi sebagai dokumen. Pada tahun 1991, Buckland pernah mempertanyakan apakah berkas digital disebut sebagai dokumen. Untuk menjawab hal tersebut memang agak susah, karena pola pikir orang-orang masih pada ilmu perpustakaan yang hanya berfokus pada teks. Namun, pendekatan semiotik dapat menjawab pertanyaan tersebut. Berkas digital tidak dilihat dari materialitasnya, namun dilihat dari fungsinya. Selama berkas digital berfungsi untuk mengintroduksikan, memberitahukan, memberi pelajaran itu disebut sebagai dokumen.

Sekali lagi, dengan adanya buku ini diharapkan menghilangkan sekat-sekat pada lembaga dokumenter. Perpustakaan dua dimensi, museum tiga dimensi. Namun, ilmu murni dari semua lembaga dokumenter adalah ilmu dokumentasi baru.

Dalam buku ini juga terdapat bibliografi kronologis. Bukan bibliografi dari buku ini, namun bibliografi perkembangan dokumentasi hingga tahun 2016. Penulis merasa banyak sekali perkembangan dokumentasi. Buku ini bukan bermaksud menggurui, namun lebih pada mengajak generasi muda bidang LIS untuk memperdalam ilmu dokumentasi baru. Ilmu dokumentasi baru ini juga perlu diajarkan di bidang perpustakaan, arsip, maupun museum.

Tanya Jawab

Menarik dengan istilah documentality. Dalam pemikiran orang yang bergerak di bidang performing art, perekaman atau dokumentasi itu disebut dengan “pembekuan”. Ada banyak hal yang perlu digali. Membekukan itu menghilangkan banyak faktor, khususnya dalam hal performing art. Ada istilah “This is always the first time”, tidak ada pertunjukan yang kedua. Tawaran apa yang disampaikan jika kita menggagas performing art sebagai dokumen.

Dari perspektif arsip, even yang dibekukan dan waktunya sudah berlalu merupakan pendeketan arsip yang tradisional. Dalam pendekatan posmo, arsip juga dimaknai sebagai proses. Ketika memfoto, orang arsip pasti sudah menyatakan itu arsip. Dalam pendekatan dokumentasi ada prinsip temu kembali. Untuk dapat ditemukan kembali, performing art perlu dibekukan. Namun perlu ditekankan bahwa arsip tidak dapat merekam keseluruhan. Tetapi paling tidak proses performance itu dibuat sadar, dan di situlah subjektifitas bermain. Dalam hal ini, performing art dimaknai sebagai dokumen. Perlu ditekankan, ada filosofis “as”. Live performance dianggap sebagai dokumen selama ia memberikan pengetahuan. Dalam komunikasipun, ada komunikasi langsung dan tidak langsung. Dalam komunikasi tidak langsung ini bisa disampaikan dalam berbagai bentuk. Seperti yang disampaikan oleh penulis, x, y, z, t, di mana waktu itu terus berjalan sehingga selalu berubah. Oleh karena itu, live performance itu untuk waktu tidak bisa recall, tetapi bentuknya dapat di-recall. Dalam teori dokumen melihat: live perfomance as document. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa ini adalah filsafat “as”. Karena tidak mungkin kita menuangkan dalam pikiran semua material yang beyond. Oleh karena itu perlu dibantu dengan “as”, filsafat bahasa.

Sebagian besar orang melihat dokumen terbatas pada kognitifnya. Inilah yang dikritik oleh LIS, jarang melihat object as experience. Artikel dalam DOCAM akhir-akhir ini mulai melihat document as experience. Namun, sebagian besar pengunjung lembaga dokumenter hanya melihat “ini tentang apa”.

Dalam industri digital tidak banyak orang arsip, namun lebih banyak orang dari IT dan bisnis. Padahal seharusnya sangat relevan. Bagaimana bidang ini melihat perkembangan industri digital?

Pada UU No. 43 Tahun 2009 tentang kearsipan masih hanya terfokus pada pemerintahan. Namun kebutuhan swasta lebih besar. Sehingga arsip mulai berkembang. Salah satu organisasi yang konsentrasi dalam hal ini adalah P3RI.

Video diskusi bisa dicek ke link berikut:
https://www.facebook.com/cak.tarno/videos/10215034104500215/


Pemateri: Suprayitno
(Arsiparis Kementerian Ketenagakerjaan, Alumni S2 Arkeologi UI, anggota KSKI)

Notulensi: Dian Novita Fitriani 
(Widyaiswara Perpustakaan Nasional RI, Sekjend KSKI)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Strategi Membangun Budaya Literasi di Era Digital

Lebih Lanjut tentang Integrasi Dokumentasi